Mar 9, 2009

BASA BASI… ITU PERLU!

“Buih, bikin makanan kok asin begini, Mi!” Kata Fulan begitu mencicipi masakan isterinya. Wajah isterinya pun jadi merah padam. Malu, tapi juga tak suka suaminya berkomentar sekasar itu.

Sementara itu, seorang suami lain mengomentari tindakan isterinya yang dinilai salah dengan berkata, “Dasar kamu itu nggak pinter. Menyelesaikan hal begitu saja nggak becus!” Sang isteri pun jadi sakit hati mendengar kata-kata suaminya. Yang ia lakukan kemudian adalah masuk kamar dan memeluk bantal, sementara air matanya tak henti brecucuran.

Sebagian laki-laki, memang seringkali tak menyadari, bila suatu komentar atau ucapan yang tanpa basa basi itu bisa menyakiti hati isterinya. Padahal, dalam pergaulan suami isteri, dituntut adanya hubungan komunikasi yang harmonis, dan hal itu hanya akan terwujud bila masing-masing bisa mengatur kata-katanya agar tidak menyakitkan hati pasangannya.

Tidak bisakah seorang suami lebih sopan dalam mengkritik masakan isterinya dengan tersenyum dan mengatakan, ”Wah, makanan ini sebenarnya enak kok Mi…, cuma, mungkin kebanyakan garam…” Isteri yang dikomentari seperti itu mungkin masih bisa tersenyum, dan lain kali ia akan lebih berhati-hati dalam member garam pada masakannya.
Demikian pula ketika menilai tindakan isteri yang salah di mata suami, perlu basa basi, agar isteri bias menyadari kesalahannya tanpa merasa tersakiti. Misalnya dengan berkata, ”Begini Mi, langkah yang Ummi ambil itu mungkin sudah benar, tap kurang tepat. Alangkah baiknya jika untuk menyelesaikan hal itu Ummi bersikap …… Insya Allah nanti hasilnya akan lebih baik.”

Bukankah kata-kata seperti itu terdengar begitu menyenangkan dan sejuk di hati?
Begitu pula yang diajarkan oleh sahabat Nabi SAW, Umar bin Khaththab RA. Ketika beliau menjadi khalifah, ada seorang wanita yang dia panggil untuk menghadapnya. Sebelumnya, wanita itu ditanya oleh suaminya, ”Apakah kamu mencintaiku?” Ia menjawab, ”Tidak.” Maka Umar pun memanggil wanita itu agar menghadap, lalu beliau tanyakan kepadanyaa, ”Mengapa kamu katakan seperti itu?” Wanita itu menjawab, ”Ia memintaku bersumpah, dan aku tidak mau berbohong.”

Maka Umar pun berkata, ”Baiklah. Hendaklah salah seorang di antara kalian bias berbohong dan berbasa basi. Tidak setiap rumah tangga itu dibangun atas dasar pondasi cinta, akan tetapi bisa jadi ia tegak karena pergaulan atas dasar keturunan dan Islam.”
Yang dimaksudkan oleh Umar adalah, hendaklah seorang isteri bisa berbasa-basi kepada suaminya dalam berkata-kata, dan hendaklah ia mengatakan, ”Aku mencintaimu.” Sekalipun sebenarnya ia tidak mencintainya. Tapi, ini adalah sebagian dari bentuk kepantasan berbasa-basi saja. Boleh jadi pikiran itu akan berubah di kemudian hari.

Demikian halnya dengan seorang suami. Hendaklah ia mengatakan, ”Aku mencintaimu,” sekalipun sebenarnya ketika itu ia tidak mencintainya. Mudah-mudahan Allah akan menjadikan cinta sesudah itu. Seringkali perilaku seorang wanita iitu berubah menjadi baik dan kemudian bertambahlah kecintaan di antara keduanya. Maha Suci Allah, Dzat yang berkuasa untuk membolak-balikkan hati.

Sesungguhnya, berbasa basi, atau berbohong dalam pembicaraan suami isteri yang ditujukan untuk kemaslahatan, adalah sesuatu yang diperbolehkan. Diriwayatkan dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, bahwa ia berkata, ”Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberikan keringanan mengenai sesuatu pun untuk berdusta, kecuali dalam tiga perkara. Yaitu seseorang berbohong dengan maksud mendamaikan (dua pihak yang berselisih), seseorang yang berbohong dalam perang, dan seorang suami yang berbicara (berbohong) kepada isterinya atau seorang isteri yang berkata bohong kepada suaminya” (Riwayat Muslim). Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Fatawa Vol V/No. 02/Shafar 1430 : Pebruari 2009. Hal 42-43.

3 comments:

hidayat, mf said...

jd pengen slalu berbuat baek ma istri niy...
hehehehe...

B S K said...

yang diatas udha ponya istri kah ...
baru tau nich :D

Bang Kritikus said...

siap bos..siap basa basi nich biar istri sayang...he..he